
Dikatakan bahwa ada "penunggu" di dalam gua berupa seekor belut besar tambun. Selain itu dinding-dinding gua bak gorden yang dipahat. Bebatuannya sangat unik bagai prasasti peninggalan masa purba. Bahkan ada beberapa batu yang bentuknya mirip manusia. Fenomena-fenomena tersebut membuat gua Witu Niki unik dan patut didatangi.
Kolase foto kunjungan OMK Watunggong ke gua Witu Niki
Gua Witu Niki di Desa Satar Nawang, Kecamatan Congkar, Manggarai Timur, NTT merupakan salah satu destinasi wisata yang belum diketahui banyak orang.
Gua ini disebut juga dengan nama gua dua lantai. Di lantai dasar dengan lubang jangkauan agak curam dan gelap sementara di lantai atas atau lantai dua lebih terbuka dan merupakan akses menurun ke kawah gua.
Dikatakan bahwa ada "penunggu" di dalam gua berupa seekor belut besar tambun. Selain itu dinding-dinding gua bak gorden yang dipahat. Bebatuannya sangat unik bagai prasasti peninggalan masa purba. Bahkan ada beberapa batu yang bentuknya mirip manusia. Fenomena-fenomena tersebut membuat gua Witu Niki unik dan patut didatangi.
Pada hari Sabtu, 21 Maret 2026, Orang Muda Katolik (OMK) St Eduardus Watunggong berkesempatan mengunjungi gua Witu Niki bersama pendamping dan Pastor Pendamping RD. Kiven.
Pada saat itu, spot pertama yang dituju adalah kolam yang menjadi tempat bersemayam "penunggu" gua. Beruntungnya, pada saat itu belut penunggu muncul dan sempat dipotret.
Mereka kemudian beralih ke arah lain yang menyajikan pemabdangan unik dan cantik. Membuat kagum. Bebatuan di dinding gua tampak menawarkan keindahan berbalut mistik. Sedangkan di bagian lantai tertata rapi prasasti alami yang indah.
Pemandangan menawan tersebut tak disia-siakan. Semuanya diabadikan sebagai kenangan akan pengalaman tak terlupakan akan keindahan dan kehebatan Tuhan yang mengkreasi ciptaan luar biasa.
Gua Witu Niki menjadi bukti kemahakuasaan Tuhan yang mencipta dan tak terselami akal manusia.
OMK Watunggong dengan semangat mencintai alam sungguh menikmati moment tersebut. Senda gurau dan kalimat tanda heran pun terucap dari mulut mereka.
Mereka merasa bersyukur karena bisa diberi kesempatan untuk mengalami kasih Tuhan dengan berkunjung ke tempat yang penuh keajaiban.
Di akhir perjalanan, mereka mengundang semua orang untuk berkenan meluangkan waktu mengunjungi gua Witu Niki.
Mari, Berkunjung ke gua Witu Niki. Anda akan menikmati keajaiban Tuhan dan pulang dengan penuh syukur dan sukacita.***