
KBG yang dinamis akan selalu bertransformasi. Transformatif didasarkan dalam terang kasih Tritunggal. Pertama-tama harus menjadi tanda kehadiran Allah dan persekutuan kasih yang membebaskan manusia dari semua hal buruk. Kemudian meningkatkan semangat solidaritas (membantu/berbagi) relasi yang setara.
Foto kegiatan sidang sesi II Sinode IV Keuskupan Ruteng hari ketiga
Sidang sesi II Sinode IV Keuskupan Ruteng selalu menampilkan tema-tema bernas yang menjadi fokus pembicaraan dan diskusi.
Setelah dua hari berbicara tentang pewartaan digital dan pengudusan, hari ini ditampilkan topik menarik tentang "Persekutuan Gereja Kurtural Sinodal" dengan pematerinya Romo Prof. Yohanes S. Boilon.
Romo John (sapaan akrabnya) kemudian membungkus materinya dengan judul besar "Komunitas Basis Gerejani (KBG) sebagai Persekutuan Kasih Trinitaris". KBG harus menjadi persekutuan Transformatif.
Romo John menitikberatkan topik materinya pada pemberdayaan umat di KBG. Gereja mesti mampu menunjukkan wajah Gereja batu, berbeda dan menyentuh umat. Mendahulukan aspek kehadiran, relasi dengan umat, fokus utama (prioritas), bahasa dan simbol serta peran pemimpin sebagai bentuk kehadiran yang nyata dalam semangat kasih Trinitaris.
Disampaikan bahwa sejak tahun 1993, hasil studi Rm. Madya, SJ menyebutkan bahwa KBG sudah menyebar di sebagian besar Keuskupan. Artinya Gereja Indonesia sudah menunjukkan semangat persekutuan sejak 34 tahun lalu.
KBG hadir pertama-tama menjadi komunitas doa. Doa menjiwai seluruh kehidupan KBG serta menjadikan Kitas Suci sebagai sumber hidup, sumber inspirasi KBG.
Lebih dari itu, KBG mesti selalu menumbuhkan semangat kasih persaudaraan. Setiap anggota mesti merasa diterima dan dihargai di dalam KBG.
Dalam perjalanannya, KBG mesti berpartisipasi aktif, harus makin berkembang dalam doa, solidaritas, berbagi dengan meneladani semangat hidup jemaat perdana.
KBG yang dinamis akan selalu bertransformasi. Transformatif didasarkan dalam terang kasih Tritunggal. Pertama-tama harus menjadi tanda kehadiran Allah dan persekutuan kasih yang membebaskan manusia dari semua hal buruk. Kemudian meningkatkan semangat solidaritas (membantu/berbagi) relasi yang setara.
KBG dijadikan sebagai ruang pembentukan iman yang dinamis. Buat umat makin dekat dengan Gereja (pembinaan iman berkelanjutan).
KBG harus terbuka dan inklusivitas (tidak boleh tertutup) dan mesti mampu merangkul semua dan membawa semua orang pada kasih Trinitaris.
Sebagai komunitas kultural, Gerejatidak hanya berakar dalam iman tetapi juga hidup dalam budaya lokal (saling melengkapi dan memperkaya).
Misteri inkarnasi menjadi tanda bahwa Tuhan mencintai manusia dan seluruh nilai kulturalnya. Oleh karena itu, Gereja mesti mampu menyucikan semua orang dalam budayanya masing-masing (berbicara tentang persekutuan Gereja dengan budaya).
Kita menyadari bahwa untuk mencapai Gereja dan KBG yang ideal, tidak terlepas dari beberapa kesulitan, diantaranya,
1. Tantangan teologis:
- pemahaman iman yang dangkal
- Bahaya reduksi iman
- ibadat tanpa pendalaman
- KBG kehilangan daya Transformatifnya
- KBG kehilangan makna pembebasan.
Selain itu, ada juga tantangannya seperti keterbatasan partisipasi, ketergantungan pada pemimpin dan keterbatasan sarana pastoral.
Pada dasarnya, KBG adalah kita dan kita adalah KBG.
Setelah pemaparan materi tentang persekutuan Gereja kultural sinodal yang berfokus pada KBG oleh Romo Prof. Yohanes S. Boilon, dilanjutkan dengan syering praktek baik.
Syering praktek baik menghadirkan perbaikan dari komunitas rohani, ketua KBG, ketua Stasi dan perwakilan pendamping Sekami dan kelompok Sekami.
Seluruh kegiatan diakhiri dengan diskusi kelompok dan pleno hasil diskusi.***