
Gendang Ntungal Watunggong secara resmi diakui sebagai gendang yang legal dengan forma dna natura yang ada di dalamnya setelah menerima Surat Keputusan Masyarakat Hukum Adat dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur yang diserahkan oleh Wakil Bupati, Tarsisius Sjukur, S.S. Ungkapan syukur dimaknai dengan Perayaan Ekaristi inkulturasi yang dipimpin RD. Kiven.
Perayaan Misa Launching Tahun Sinode IV Keuskupan Ruteng di tingkat Paroki Santo Eduardus Watunggong berlangsung dengan khidmat dan penuh sukacita pada Minggu, 1 Februari 2026. Misa pembukaan ini dirayakan di Gereja Paroki Santo Eduardus Watunggong sebagai wujud partisipasi paroki dalam menyambut dan menghidupi perjalanan Sinode IV Keuskupan Ruteng.
Paroki St Eduardus Watunggong dalam perjalanan waktunya yang ke 16 tahun ini sudah melewati beragam hal dalam dinamika reksa pastoral yang tentu saja selalu terbuka pada evaluasi dan masukan-masukan yang sifatnya membangun termasuk program reksa pastoral tahun 2025 yang telah dilewati wajib dievaluasi dan dilihat lagi proses dan realisasinya untuk perbaikan-perbaikan ke depan.
Sekami paroki St Eduardus Watunggong mengisi ulang tahun anak Misioner ke 118 dengan mengambil bagian pada Perayaan Ekaristi dan kegiatan karitatif. Suasana penuh sukacita tampak dari setiap gerakan mereka. Meski berjalan kaki dan sekali-sekali njmpang mobil tetapi tidak ada keluhan yang terucap, sebaliknya tawa-canda menjadi pewarna dalam perjalanan karitatif itu.
Umat Keuskupan Ruteng sudah melewati 10 tahun dalam masa sinode IV dan kini mempersiapkan diri untuk berziarah dan berproses dalam pastoral pada sinode IV yang akan disidangkan sepanjang tahun 2026 untuk kemudian diejawantahkan pada sepuluh tahun ke depan yang saat ini didahului dengan katekese dan sosialisasi kepada umat tentang semangat sinodalitas seperti yang telah dilakukan di Paroki St Eduardus Watunggong.
Orang Muda Katolik St Eduardus Watunggong menginisiasi kegiatan bazar orang muda berbelarasa untuk membantu sesama saudara yang terdampak bencana alam di Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Aceh dengan menjajakan aneka cemilan dan makan berat sebagai bentuk kepedulian dan gerakan karitatif untuk kemanusiaan. Mereka disupport penuh oleh Pastor Paroki dan Pastor pendamping OMK.