
Acara yang sarat makna ini ditutup dengan penampilan istimewa di tengah halaman kampung: Tarian Toleransi, yang dibawakan bersama oleh anak-anak dari Masjid Nurul Iman Nelo dan anak-anak dari KBG Cinta Damai. Gerakan yang serasi, wajah yang ceria, dan senyum tulus mereka menjadi penutup paling indah — simbol nyata bahwa di halaman kampung Nelo, persaudaraan melampaui segala perbedaan, dan kebersamaan adalah kekuatan terbesar kita semua.
Kunjungan ini pun meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh warga Nelo-Ntaram. Sebuah kisah indah tentang persaudaraan yang membuktikan bahwa kerukunan hidup beragama di Manggarai bukan sekadar wacana, melainkan sesuatu yang dihayati dan dijalankan dalam keseharian, demi terciptanya kedamaian dan kesejahteraan bersama.
“Kisah hari ini adalah bukti bahwa di sini, di tanah Nelo-Ntaram ini, kerukunan bukan sekadar kata-kata di atas kertas, melainkan sesuatu yang kami jalani, kami rawat dan kami hidupi setiap hari. Terima kasih Bapak Uskup. Langkah Bapak mengajarkan kami semua bahwa cinta kasih adalah bahasa yang dimengerti oleh semua orang, tanpa memandang agama apa pun yang dianutnya,” tutup Bapak Yusuf Daik disambut tepuk tangan meriah dan haru dari seluruh warga yang hadir.