
Kegiatan katekese ini dilaksanakan di seluruh paroki dalam lingkup Keuskupan Ruteng, termasuk di Paroki St. Eduardus Watunggong yang menunjukkan respon positif terhadap program pastoral tersebut.
Fasilitator Kursus Persiapan Perkawinan Katolik sangat penting perannya dalam pembimbingan dan pendalaman makna tentang Perkawinan. Oleh karena itu, sanga penting bagi para Fasilitator untuk menguasai materi yang akan disampaikan kepada calon pasti Katolik. Atas dasar itu, Komisi Keluarga Keuskupan Ruteng menyelenggarakan kegiatan pelatihan bagi para Fasilitator untuk memberi wawasan serta cara bagaimana menjadi Fasilitator KPPK yang baik.
Kehidupan kaum muda saat ini tak terlepas dari media sosial, namun hal ini juga sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi kaum muda apakah mereka akan terus berada pada zona pewartaan diri ataukah juga turut mengeksplore dan mewartakan Injil lewat media sosial miliknya. Katekese kali ini mengajak kaum muda untuk lebih bijak menggunakan media sosila dan memotivasi agar mereka setia serta turut menjadi "Influencer Tuhan".
Paroki St. Eduardus Watunggong mencanangkan berbagai program dalam masa Prapaskah sebagai bentuk pembinaan iman umat. Program-program tersebut meliputi pelayanan ibadah-sakramental, aksi sosial demi kehidupan bersama, serta pembinaan spiritual melalui kegiatan rekoleksi. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan tersebut, pada Senin, 2 Maret 2026, dilaksanakan rekoleksi Prapaskah bagi para murid SDK Wea - Watunggong. Kegiatan ini berlangsung di Gereja Paroki St. Eduardus Watunggong dan dihadiri
Rapat persiapan perayaan Paskah dan Pentekosta tahun 2026 tingkat Paroki St Eduardus Watunggong dilaksanakan pada hari Minggu 22 Februari 2026 setelah perayaan Ekaristi dengan menghadirkan peserta dari stasi-stasi dan segenap pengurus DPP, DKP, Katekist/ta dan perwakilan Orang Muda Katolik yang berlangsung dalam semangat persaudaraan dan berciri Gereja Sinodal.
Umat Katolik Paroki St Eduardus Watunggong mengikuti misa inkulturasi Minggu Ketiga dengan penuh sukacita dan mengenakan busana khas Manggarai sebagai identitas yang menyatu dalam liturgi sehingga membuat perayaan menjadi lebih meriah, indah namun khusuk dan khidmat karena seluruh perayaan dari doa, bacaan sabda, homili hingga nyanyian semua dalam bahasa Manggarai.