
Dikatakan bahwa ada "penunggu" di dalam gua berupa seekor belut besar tambun. Selain itu dinding-dinding gua bak gorden yang dipahat. Bebatuannya sangat unik bagai prasasti peninggalan masa purba. Bahkan ada beberapa batu yang bentuknya mirip manusia. Fenomena-fenomena tersebut membuat gua Witu Niki unik dan patut didatangi.
Atas dasar keprihatinan sembari mengisi masa puasa dan Prapaskah orang muda Katolik St. Eduardus merasa terpanggil untuk harus bergerak membersihkan bahu jalan jalur Watunggong-Lok Pahar sebagai bentuk mencintai ibu bumi dan mengantisipasi terjadinya kecelakan lalu lintas akibat tingginya belukar di sepanjang jalan tersebut.
Rangkaian kegiatan ini menunjukkan komitmen Paroki St. Eduardus Watunggong dalam membangun iman umat secara berkelanjutan, baik melalui komunitas basis gerejani maupun melalui pendidikan iman bagi anak-anak di sekolah. Dengan partisipasi aktif umat dan kreativitas para fasilitator, katekese menjadi sarana pembinaan iman yang hidup, relevan, dan membangun kebersamaan dalam Gereja.
Rekoleksi ini menjadi moment penting untuk melihat kembali apa saja yang telah dilalui bersama. Menata kembali retak-retak hidup yang sempat tergores kerikil egoisme untuk memintalnya kembali menjadi etalase yang utuh dalam iman dan persekutuan. Komunitas rohani hendaknya menjadi pioner dalam semangat sinodalitas.
Kunjungan ini bertujuan untuk membantu Paroki Lengko Ajang dan Paroki Mombok dalam menyusun proposal permohonan dana kepada Komisi PSE Keuskupan Ruteng. Selain itu, rombongan juga memberikan dukungan bagi Kelompok Tenun Punca Titi yang berada di wilayah Paroki Watunggong.
Pendamping kelompok anak mesti jeli dan memperhatikan setiap anak dengan keunikannya. Perlakuan kepada anak harus disesuaikan dengan kemauan anak, bukan atas kemauan pendamping. Mendengar mereka kemudian mengarahkan untuk sesuatu yang lebih baik, yang berguna dan berdaya mengangkat martabat luhur mereka.